Kembali ke Beranda
Iklan article_topIKLAN
Hukum

Haji dan Korupsi: Drama Kuota dan Tragedi Integritas

Dipublikasikan pada 12 Mar 2026
Haji dan Korupsi: Drama Kuota dan Tragedi Integritas

Dalam sebuah babak baru yang tampaknya lebih cocok sebagai skenario film ketimbang realitas, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali unjuk gigi dengan menyita aset senilai lebih dari Rp100 miliar terkait dugaan korupsi kuota haji. Sementara banyak yang berdoa untuk kelancaran ibadah, tampaknya ada yang sibuk mengatur kuota dengan kalkulator keuntungan. Kasus ini melibatkan seorang tokoh yang tak asing di panggung politik tanah air, Gus Yaqut. Bukan seorang asing dalam dunia birokrasi, Yaqut yang notabene dikenal dengan pandangan progresifnya, kini harus berhadapan dengan tudingan yang menodai karirnya. Ironisnya, isu ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk memperbaiki tata kelola haji yang selama ini memang dikenal penuh liku. Seperti sebuah deja vu, kasus korupsi di sektor keagamaan ini mengingatkan kita pada serangkaian skandal serupa yang kerap menghantui negeri ini. Dari kasus Alquran hingga dana umat, sepertinya korupsi selalu menemukan jalannya ke tempat-tempat paling tak terduga. Seolah-olah, ada semacam daya tarik misterius yang memikat para elite untuk merogoh kocek dari pundi-pundi yang semestinya suci. Namun, pertanyaan yang lebih substansial adalah, bagaimana kita sampai di sini? Proses penentuan kuota haji yang seharusnya transparan dan efisien, nyatanya jadi lahan subur bagi praktik kotor. Birokrasi yang berbelit dan pengawasan yang lemah ibarat pupuk bagi tumbuhnya korupsi. Pakar hipotetis kita mungkin akan menyarankan reformasi total dalam sistem ini, tetapi bukankah itu sudah menjadi lagu lama yang terus diulang tanpa hasil nyata? Dengan skandal ini, sekali lagi kredibilitas lembaga keagamaan dan pemerintah dipertaruhkan. Kepercayaan publik yang sudah tergerus oleh berbagai kasus serupa, kini menanti langkah tegas yang lebih dari sekadar retorika. Apakah ini saatnya kita benar-benar melakukan introspeksi mendalam, atau hanya menunggu skandal berikutnya muncul di halaman depan koran besok?

Iklan article_middleIKLAN

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!