Kembali ke Beranda
Iklan article_topIKLAN
internasional

Ketika Diplomasi Adalah Pilihan: SBY Beri Nasihat Bijak untuk Trump dan Khamenei

Dipublikasikan pada 28 Feb 2026
Ketika Diplomasi Adalah Pilihan: SBY Beri Nasihat Bijak untuk Trump dan Khamenei
Dalam jagat diplomasi internasional yang penuh liku, mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pandangan tajam tentang negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Di tengah ketegangan yang membara, SBY menyoroti pentingnya kebijaksanaan dan kecerdikan dalam proses perundingan. Menurut SBY, perundingan ini bukan hanya soal proyek nuklir Iran, melainkan juga tentang bagaimana dua negara besar ini bisa menghindari konflik berskala global.

SBY, yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam resolusi konflik, menegaskan bahwa diplomasi adalah permainan yang rumit. "Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan negosiasi sering kali bergantung pada kemampuan para juru runding untuk memahami dan menyeimbangkan kepentingan kedua belah pihak, yang dalam hal ini adalah Presiden Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Memasuki ranah yang lebih personal, SBY juga mencatat bahwa baik Trump maupun Khamenei memiliki ego dan ambisi masing-masing yang perlu diakomodasi. Trump, dengan reputasi internasionalnya, khawatir akan warisan politik yang ingin ia tinggalkan. Sementara Khamenei, berada dalam posisi yang tidak kalah menantang, di mana kelanjutan rezimnya bisa terancam jika negosiasi gagal. Ini adalah pertaruhan besar bagi kedua pemimpin yang harus mereka hadapi dengan hati-hati.
Iklan article_middleIKLAN
Namun, SBY juga mengingatkan bahwa keputusan untuk berperang bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. "Apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain?" tanya SBY, mengajak kita merenungkan makna dari "war of necessity" dan "war of choice". Setiap keputusan yang diambil, tegas SBY, harus didasari oleh perhitungan yang matang dan rasional.

Dari sudut pandang Amerika, SBY mengingatkan akan bahaya terlibat dalam konflik yang berkepanjangan. Mengingat pengalaman pahit AS di Vietnam, Irak, dan Afghanistan, SBY menekankan bahwa Iran bukanlah medan perang yang bisa diremehkan. "Iran adalah Iran," ujarnya, menekankan perbedaan penting antara Iran dengan negara-negara lain yang pernah menjadi medan tempur bagi Amerika.

Pesan SBY tidak hanya ditujukan kepada Trump dan Khamenei, tetapi juga kepada para pemimpin dunia. Dengan bijak, ia mengingatkan bahwa tombol perang bukanlah mainan, melainkan tanggung jawab besar yang mempengaruhi nasib jutaan nyawa. Dengan demikian, SBY mengajak kita semua, sebagai warga dunia, untuk mendorong solusi damai dan menghindari konflik yang merugikan.

Di balik semua itu, ada pelajaran berharga dari SBY: bahwa dalam setiap konflik, selalu ada jalan menuju perdamaian, selama ada kemauan untuk mencapainya. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai masyarakat global siap untuk mengambil jalan tersebut?

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!