← Kembali ke Beranda
IKLAN
IKLAN





IKLANolahraga
Jersi Timnas: Antara Identitas Budaya dan Strategi Pemasaran Ala Erick Thohir
Dipublikasikan pada 12 Mar 2026

Dalam dunia sepak bola yang kian terkomersialisasi, munculnya jersi baru bukan lagi sekadar soal pakaian. Ini adalah perayaan budaya, strategi pemasaran, dan kadang, upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu lain yang lebih mendesak. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dengan bangga meluncurkan jersi terbaru timnas Indonesia, yang diklaim mengangkat identitas budaya bangsa dengan perpaduan warna merah putih dan motif tradisional terinspirasi dari tenun dan batik.Sebuah langkah yang patut diapresiasi, tentu, dalam konteks di mana banyak masyarakat kita lebih mengenal motif dari jersey klub-klub Eropa ketimbang kekayaan budaya sendiri. Namun, mari kita setuju bahwa di balik setiap serat tenun dan motif batik yang menghiasi kain jersi ini, ada pertanyaan yang menggantung di udara: seberapa jauh kita benar-benar mendalami dan menghargai budaya kita sendiri, atau ini hanya cara lain untuk menjual lebih banyak merchandise?Erick Thohir, yang dikenal sebagai pengusaha ulung, tampaknya memahami betul bahwa sepak bola bukan hanya soal bermain di lapangan tetapi juga soal bagaimana menciptakan 'buzz' di luar lapangan. Dengan menggandeng Kelme, sebuah nama yang mungkin lebih dikenal di Spanyol ketimbang di Tanah Air, kita melihat upaya serius untuk menempatkan Indonesia di peta sepak bola dunia. Tapi, mari kita tidak lupa bahwa di balik semua ini, ada faktor ekonomi yang berperan besar.
IKLANJersi kandang yang mengambil inspirasi dari desain tahun 1999, konon, adalah simbol kebangkitan Indonesia di kancah internasional. Namun, seberapa jauh kita telah bangkit? Apakah jersi ini akan membawa kita ke podium piala dunia, atau hanya sekadar menjadi koleksi memorabilia di lemari para penggemar? Sementara itu, motif batik yang telah dipatenkan (karena takut ditiru, katanya), mengingatkan kita pada ironi klasik: kita patenkan budaya sendiri agar tidak diambil orang.Pelatih timnas, John Herdman, turut memuji rancangan jersi yang katanya dirancang untuk menyesuaikan dengan iklim Asia. Sebuah pernyataan yang, jika dipikirkan lebih dalam, agak menggelikan. Apakah sebelumnya kita bermain dengan jersi yang kurang cocok dengan iklim kita sendiri? Mungkin, ini adalah cara halus untuk mengatakan bahwa jersi sebelumnya lebih cocok untuk cuaca Eropa yang dingin.Pada akhirnya, apa yang kita lihat di sini adalah sebuah upaya untuk menyatukan identitas budaya dan modernitas dalam sebuah kain. Ini adalah langkah yang seharusnya menumbuhkan kebanggaan nasional, meskipun kita tidak bisa menyangkal bahwa ini juga adalah tentang bisnis. Seperti biasa, di balik setiap langkah besar, selalu ada strategi yang lebih besar.
Berita Terkait

Ketika Dunia Terperangkap Krisis Energi, China Berdansa di Atas Panggung Global
04 Apr 2026

Mengintip Peluang: Mengapa Indonesia Harus Belajar Teknologi Persenjataan dari Iran
04 Apr 2026

Prabowo Memikat Hati Investor Jepang dan Korsel: Diplomasi Ekonomi yang Berbuah Manis
02 Apr 2026

Pengeroyokan di Kantor Polisi: Sebuah Tanda Tanya Besar atas Rasa Keadilan di Indonesia
02 Apr 2026

Vonis Bebas Amsal Sitepu: Sinyal Keras untuk Penegakan Hukum yang Lebih Berani
02 Apr 2026

Kode Etik Jaksa: Penjaga Integritas atau Sekadar Formalitas?
02 Apr 2026
Komentar Pembaca (0)
Ingin ikut berdiskusi?
Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!