Kembali ke Beranda
Iklan article_topIKLAN
editorial

Inovasi Dapur Umum Tanpa APBN: Renungan atas Birokrasi yang Lamban dan Efisiensi yang Terlupakan

Dipublikasikan pada 08 Mar 2026
Inovasi Dapur Umum Tanpa APBN: Renungan atas Birokrasi yang Lamban dan Efisiensi yang Terlupakan
Dalam suatu langkah yang bisa dianggap sebagai pelajaran berharga bagi birokrasi yang seringkali terlalu lamban, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sanjaya, mengungkapkan bahwa 24.675 unit Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) telah berhasil dibangun di Indonesia tanpa sentuhan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam konteks ini, tampaknya masyarakat dan sektor swasta telah mengajarkan pejabat publik kita tentang bagaimana menjalankan program dengan lebih efisien dan cepat.

Sony menarik perbandingan dengan Jepang, di mana dapur umum sejenis dibangun dengan dukungan penuh dari pemerintah, termasuk pembiayaan infrastrukturnya. Di negeri sakura, pemerintah dan perusahaan besar bergandengan tangan dalam misi sosial ini. Namun, di tanah air, kita justru melihat bagaimana masyarakat dan mitra dari sektor swasta mampu mengambil alih peran yang seharusnya dimainkan oleh pemerintah.
Iklan article_middleIKLAN
Menariknya, Sony menyoroti bahwa jika proyek ini menggantungkan diri pada APBN, maka proses pengadaan barang dan jasa akan melewati labirin birokrasi yang rumit dan memakan waktu. Seperti sebuah drama yang tiada habisnya, setiap langkah harus melalui kelompok kerja (Pokja) dan memenuhi berbagai syarat administrasi yang mungkin membuat siapapun merasa seperti sedang bermain dalam film thriller penuh ketegangan.

Sony juga menambahkan bahwa proyek yang dikerjakan pemerintah sering kali membuka pintu bagi praktik penggelembungan harga. Namun, ketika masyarakat dan mitra yang mengambil alih, semua berjalan lebih transparan. Tidak ada yang mau menggelembungkan dana jika itu berasal dari kantong mereka sendiri. Ini adalah sebuah ironi yang menohok para pejabat yang selama ini sering berdalih atas lambannya pembangunan.

Kecepatan menjadi kunci keberhasilan dalam pembangunan SPPG ini. Sony menjelaskan bahwa proyek yang digarap langsung oleh masyarakat dapat diselesaikan hanya dalam dua bulan, jauh lebih cepat dibandingkan dengan proyek pemerintah yang bisa memakan waktu hingga lima bulan hanya untuk mengatasi birokrasi. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya menjadi contoh keberhasilan, tetapi juga sebuah sindiran tajam terhadap keterbatasan birokrasi yang sering menghambat kemajuan program-program penting.

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!