← Kembali ke Beranda
IKLAN
IKLAN





IKLANEditorial
Kepercayaan Publik: Pilar Kekuasaan dan Ancaman Korupsi di Indonesia
Dipublikasikan pada 08 Mar 2026

Dalam lanskap politik dan pemerintahan Indonesia, kepercayaan publik bukanlah sekadar kata kunci kosong tanpa makna. Ia adalah tulang punggung yang menopang legitimasi setiap pemimpin dan institusi. Seperti yang diungkapkan oleh Doddy Yusuf Wibisono dari Public Trust Centre, kepercayaan publik adalah 'mandat suci'—tanpa itu, seorang pemimpin ibarat kapal tanpa kompas. Ketika kepercayaan ini dikhianati, hukum menjadi palu yang menunggu untuk dijatuhkan.Sebuah survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa Kejaksaan Agung menikmati tingkat kepercayaan publik sebesar 80 persen, sebuah capaian yang menempatkannya di puncak lembaga penegak hukum yang paling dipercaya masyarakat. Namun, pencapaian ini bukan tanpa tantangan. Transparency International Indonesia melaporkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) negara kita pada tahun 2025 turun menjadi 34 dari sebelumnya 37, menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi tantangan serius di tingkat birokrasi dan pemerintahan daerah.Fenomena ini membuka mata kita pada paradoks besar: bagaimana bisa penegakan hukum kuat berjalan beriringan dengan meningkatnya praktik korupsi? Jawabannya mungkin terletak pada lemahnya integritas di tingkat lokal. Sejarah mencatat sejumlah pemimpin daerah yang jatuh karena korupsi, seperti Zumi Zola dan Rita Widyasari, yang menggadaikan kepercayaan publik demi keuntungan pribadi. Kasus mereka menggarisbawahi kerapuhan amanah yang diberikan rakyat kepada pemimpin mereka.
IKLANDi tengah kompleksitas ini, Public Trust Centre menegaskan pentingnya strategi pencegahan. Dengan mengusung 'Trisula Pemberantasan Korupsi', mereka menyerukan pendidikan anti-korupsi sejak dini, perbaikan sistem pencegahan, dan penindakan tegas sebagai langkah-langkah penting. Transparansi anggaran digital dan partisipasi publik yang bertanggung jawab juga menjadi bagian dari strategi mereka untuk menutup celah penyimpangan di tingkat daerah.Namun, upaya ini tidak hanya tanggung jawab lembaga penegak hukum atau organisasi masyarakat sipil. Ini adalah pertarungan kolektif yang mengajak seluruh warga negara untuk terlibat aktif. Kepercayaan publik adalah milik kita bersama dan perlu dijaga dengan penuh komitmen. Sebagai bagian dari keluarga besar Kejaksaan, Doddy Yusuf Wibisono menegaskan bahwa institusi Adhyaksa akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah pemerintahan di bawah kepemimpinan Jaksa Agung ST Burhanuddin.Bagi para pemimpin daerah, pilihan ada di tangan mereka: menjaga amanah dan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, atau mengkhianati kepercayaan rakyat dan berakhir di balik jeruji besi. Kepercayaan publik bukan sekadar hiasan dalam demokrasi; ia adalah pondasi yang menentukan apakah sebuah pemerintahan akan berdiri atau runtuh.
Tag
Berita Terkait

Menteri Dody Hanggodo Pimpin Revolusi Internal: Bersih-Bersih Hingga Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu
04 Apr 2026

Vonis Bebas Amsal Sitepu: Sinyal Keras untuk Penegakan Hukum yang Lebih Berani
02 Apr 2026

Prabowo dan Jembatan Penyambung Asa: Infrastruktur untuk Rakyat di Pelosok Negeri
09 Mar 2026

Mengapa Mengurangi Anggaran MBG Lebih Sulit Daripada Menemukan Jarum di Tumpukan Jerami
07 Mar 2026

Rismon Sianipar: Dari Penggugat Menjadi Tergugat dalam Drama Ijazah Palsu
15 Mar 2026

Ironi Tambang Ilegal: Ketika Denda Menari di Atas Sisa Hutan Maluku Utara
13 Mar 2026
Komentar Pembaca (0)
Ingin ikut berdiskusi?
Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!