Kembali ke Beranda
Iklan article_topIKLAN
hukum

Mengapa Mengurangi Anggaran MBG Lebih Sulit Daripada Menemukan Jarum di Tumpukan Jerami

Dipublikasikan pada 07 Mar 2026
Mengapa Mengurangi Anggaran MBG Lebih Sulit Daripada Menemukan Jarum di Tumpukan Jerami
Ketika suhu minyak global mendidih, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghadapi dilema yang tampaknya lebih kompleks daripada formula matematika Einstein. Dengan harga minyak melambung hingga US$92 per barel, defisit APBN Indonesia terancam membengkak ke angka yang lebih dramatis dari opera sabun, yakni 3,6% dari PDB. Dalam usaha untuk meredam krisis ini, opsi pemangkasan anggaran pun mengemuka, termasuk program yang bertujuan mulia—Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, tunggu dulu. Sebelum ada yang panik dan mengira anak-anak akan dibiarkan tanpa makanan bergizi atau ibu hamil dibiarkan mengandalkan air putih untuk asupan gizi, Purbaya menegaskan bahwa penghematan tidak akan menyentuh inti dari program MBG. Ini bukanlah drama pemangkasan anggaran yang berakhir dengan tragedi kemanusiaan. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memangkas lemak, bukan daging.

Meskipun ada sorotan tajam dari lembaga pemeringkat utang internasional, Fitch Rating, yang menyebut program MBG sebagai salah satu alasan outlook utang Indonesia menjadi negatif, Purbaya tetap bergeming. Seolah mengatakan, 'Jangan khawatir, kami tidak akan memangkas anggaran anak-anak hanya karena ulasan buruk dari tetangga sebelah.'
Iklan article_middleIKLAN
Ironisnya, meski ada tekanan untuk memangkas anggaran, program MBG justru dianggap sebagai investasi jangka panjang yang menggiurkan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan bangga menyebut data dari World Bank dan Rockefeller Foundation yang menunjukkan setiap dolar yang diinvestasikan dalam MBG dapat memberikan tujuh kali lipat kembali. Dengan kata lain, ini adalah investasi yang lebih menarik daripada membeli saham teknologi yang sedang tren.

Namun, dalam realitas politik dan ekonomi yang tidak selalu rasional, Purbaya harus memastikan bahwa anggaran yang ada digunakan dengan bijak. Seperti seorang pemimpin orkestra, dia harus memastikan setiap instrumen bermain harmonis, tanpa ada nada sumbang yang merusak keseluruhan simfoni. Risiko belanja yang tidak mendukung program secara langsung harus dihindari. Seperti pembelian motor untuk staff yang lebih suka jalan-jalan ketimbang bekerja, atau komputer yang lebih banyak digunakan untuk bermain game ketimbang untuk belajar.

Di tengah hiruk-pikuk ini, Purbaya tetap optimis. Dengan langkah-langkah penghematan yang tepat, dia yakin bahwa defisit anggaran bisa dijinakkan tanpa harus mengorbankan program-program esensial. Dan meski jalan menuju stabilitas ekonomi mungkin panjang dan berliku, harapannya adalah bahwa program seperti MBG tidak hanya akan bertahan, tetapi akan berkembang dan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!