← Kembali ke Beranda
IKLAN
IKLAN





IKLANhukum
Sumut Zero Pengungsi: Merayakan 'Keberhasilan' di Tengah Tenda yang Mulai Kosong
Dipublikasikan pada 31 Mar 2026

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara baru-baru ini mengumumkan pencapaian yang tampaknya cukup mengesankan: tidak ada lagi pengungsi banjir dan longsor yang bertahan di tenda-tenda darurat. Pernyataan ini seolah menjadi bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras yang tak kenal lelah dari para pemangku kepentingan. Sebuah kisah sukses yang bisa jadi inspirasi, jika tidak ingin dibilang sebagai catatan kaki dari ironi yang lebih besar di negeri ini.Menurut Basarin Yunus Tanjung, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Sumut, para penyintas kini telah bersalin tempat ke hunian sementara dan tetap yang lebih layak. Bahkan, beberapa di antara mereka beruntung mendapatkan rumah kontrakan yang didanai oleh pemerintah. Namun, tentu saja, 'lebih layak' adalah istilah yang sering kali bisa diperdebatkan, terutama bila kita menilik lebih dalam soal bagaimana percepatan pembangunan hunian tetap masih menjadi pekerjaan rumah besar.
IKLANDi balik upaya tersebut, kita patut bertanya, mengapa bencana yang sudah sering terjadi ini masih memerlukan 'percepatan' yang terkesan dadakan dan tergesa-gesa? Adakah ini indikasi bahwa perencanaan mitigasi bencana dan pembangunan infrastruktur sebelumnya tidak diatur dengan baik? Mungkin sudah saatnya kita berhenti memberi tepuk tangan kepada solusi yang hanya bersifat tambal sulam dan mulai menuntut perencanaan yang lebih visioner dan berjangka panjang.Sejumlah 120 unit hunian tetap di Desa Hapesong, Kabupaten Tapanuli Selatan, telah diserahkan kepada masyarakat terdampak. Meski langkah ini patut diapresiasi, namun tak bisa dipungkiri bahwa kolaborasi yang melibatkan pemerintah, institusi negara, dan sektor swasta ini semestinya tidak berhenti di tengah jalan. Terlebih, di tengah cuaca yang kerap kali tak bersahabat dan dapat mengundang bencana baru kapan saja.Kolaborasi publik-swasta yang dijalankan patut dilihat bukan semata sebagai jalan keluar, tetapi sebagai langkah awal dari kesadaran kolektif bahwa bencana adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan strategi matang. Sehingga, ketika esok bencana datang—karena memang kemungkinannya selalu ada—kita tak lagi terjebak dalam siklus 'percepatan' dan 'kolaborasi' yang terkesan seperti pemadam kebakaran, dan lebih kepada pencegahan yang proaktif dan berkelanjutan.
Berita Terkait

Deforestasi Aceh: Ketika Alam dan Manusia Berkonspirasi Merusak Warisan Hijau
07 Mar 2026

Kepercayaan Publik: Pilar Kekuasaan dan Ancaman Korupsi di Indonesia
08 Mar 2026

Vonis Bebas Amsal Sitepu: Sinyal Keras untuk Penegakan Hukum yang Lebih Berani
02 Apr 2026

Mengapa Mengurangi Anggaran MBG Lebih Sulit Daripada Menemukan Jarum di Tumpukan Jerami
07 Mar 2026

Purbaya dan Anggaran Makan Bergizi: Antara Ekonomi yang Bengkak dan Janji yang Tak Terpangkas
07 Mar 2026

Prabowo Memikat Hati Investor Jepang dan Korsel: Diplomasi Ekonomi yang Berbuah Manis
02 Apr 2026
Komentar Pembaca (0)
Ingin ikut berdiskusi?
Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!