Kembali ke Beranda
Iklan article_topIKLAN
surveyor

Deforestasi Aceh: Ketika Alam dan Manusia Berkonspirasi Merusak Warisan Hijau

Dipublikasikan pada 07 Mar 2026
Deforestasi Aceh: Ketika Alam dan Manusia Berkonspirasi Merusak Warisan Hijau
Tampaknya, bumi Serambi Mekah tengah menjalani sebuah drama satir yang mungkin membuat Shakespeare pun menggelengkan kepala. Kehilangan 39.687 hektare tutupan hutan di Aceh pada tahun 2025 seolah menjadi babak baru dalam saga panjang deforestasi yang menafikan semua upaya konservasi. Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) kembali mengingatkan kita bahwa angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bagi kita semua.

Bagaimana tidak? Angka tersebut mewakili peningkatan sebesar 274 persen dari tahun sebelumnya, sebuah lonjakan yang bahkan mungkin membuat para pelaku industri ekstraktif bergidik ngeri. Namun, apakah ini cukup untuk menyadarkan kita semua? Atau apakah kita akan terus bermain dalam pentas yang sama, di mana peran antagonis dan protagonis kerap kali kabur dalam kabut hujan lebat akibat siklon?

Lukmanul Hakim dari HAkA menjelaskan bahwa siklon dan hujan deras yang terjadi adalah faktor alami yang menyumbang pada kerusakan ini. Tapi mari kita tidak terjebak dalam permainan saling menyalahkan antara alam dan manusia. Tentu, alam memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan kembali dirinya, tetapi manusia tampaknya lebih pandai dalam mengacaukan keseimbangan tersebut. Dengan tutupan hutan yang berkurang, kita menghapus fungsi alami hutan sebagai pengendali siklus hidrologi, menjadikan banjir dan longsor sebagai tamu tetap di kalender bencana kita.
Iklan article_middleIKLAN
Kita tidak bisa menutup mata bahwa aktivitas manusia juga berperan besar. Perkebunan, pembukaan jalan, dan pertambangan menyumbang ribuan hektare kehilangan tutupan hutan. Seolah-olah, manusia sedang berlomba untuk menggunduli bumi dengan cara tercepat. Ironisnya, semua ini dilakukan dengan dalih pembangunan dan kemajuan ekonomi yang seharusnya bisa terwujud tanpa harus mengorbankan paru-paru dunia.

Dan di sinilah kita, di tengah bencana yang dikatakan sebagai akumulasi kerusakan lingkungan puluhan tahun. Dari 1945 hingga 2006, Aceh telah kehilangan lebih dari 1,7 juta hektare hutan. Apakah kita masih bisa mengeluh tentang bencana jika kita sendiri adalah arsitek dari kehancurannya? Mungkin sudah saatnya kita berbenah, tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan alam, tetapi juga mengubah paradigma pembangunan yang sering kali mengabaikan keberlanjutan.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: apakah kita akan terus menjadi aktor dalam drama yang sama, atau adakah keberanian di antara kita untuk menulis ulang naskah dengan akhir yang lebih baik untuk bumi ini? Pilihan ada di tangan kita.

Komentar Pembaca (0)

Ingin ikut berdiskusi?

Masuk atau daftar untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat Anda!